Florence Nightingale: Perintis perawatan dan pembaharuan rumah sakit

Dalam bulan Maret 1854, perang pecah di Krim. Inggris, Prancis, Turki, dan Sardinia terlibat dalam pertempuran melawan Rusia. Setelah beberapa bulan berlalu, cerita-cerita tentang penderitaan tentara yang jatuh sakit dan terluka sampai ke London. William Russell, seorang wartawan perang termasyhur, menulis di surat kabar The Times: “Apakah tidak ada wanita di antara kita yang merasa terpanggil untuk pergi ke medan perang dengan tulus guna merawat tentara timur yang sakit dan menderita di rumah-rumah sakit Scutari? Tidak adakah putrid Inggris, ketika tenaganya sangat dibutuhkan, yang bersedia melakukan pekerjaan kemanusiaan itu?” Florence Nightingale menjawab seruan itu.

 

Ia menulis surat ke kantor urusan perang, menyatakan kesediaannya untuk melakukan hal itu. Dalam waktu seminggu ia telah berhasil membentuk kelompok juru rawat yang beranggotakan tiga puluh delapan orang. Kemudian mereka pergi meninggalkan negerinya.

 

Ia dan para juru rawat itu tiba di Scutari, Krim, pada tanggal 4 November. Rumah sakit di sana berantakan. “Tidak ada tempat atau perkakas apa pun; tidak ada sabun, handuk atau kain, tidak ada pakaian rumah sakit. Pasien-pasien terbaring dengan mengenakan seragam tentara, yang kaku karena darah kental dan penuh dengan najis….” Maka Florence mulai melakukan beberapa usaha perbaikan. Para dokter tentara menganggapnya sebagai pembuat keributan, dan mereka mengganggu pekerjaan Florence. Namun menjelang akhir tahun itu, Florence berhasil membuat rumah sakit itu agak rapi. Keadaannya menjadi bersih, tidak begitu bau, dan lebih aman bagi tentara-tentara yang sakit itu. Para juru rawat itu bekerja keras dan tidak mengenal waktu dalam merawat dan menghibur pasien-pasiennya. Tetapi, tak seorang pun yang bekerja lebih keras dari Florence. Tiap-tiap malam telah larut ia berjalan memasuki sal-sal guna mengontrol pasien-pasiennya apakah mereka merasa senang. Tentara-tentara itu mengaguminya.  Mereka menyebutnya ‘ Wanita pembawa lampu’.

 

Pada awal tahun berikutnya, suatu wabah penyakit yang sangat berbahaya berjangkit di rumah sakit itu. Empat puluh orang setiap seratus pasien meninggal dunia – artinya 40 persen. Florence kemudian menulis beberapa surat yang bernada keras kepada kantor urusan perang di London. Harus dilakukan usaha-usaha untuk mengatasi saluran-saluran air yang kotor, udara yang tercemar dan kotoran dalam sal-sal rumah sakit. Pemerintah mengirim komisi kesehatan yang beranggotakan para dokter dan ahli-ahli teknik untuk melaksanakan perbaikan-perbaikan yang diperlukan. Maka pada bulan Juni angka kematian turun menjadi 2 persen. Meskipun ia sendiri sakit, Florence terus bekerja hingga berakhirnya perang itu. Pada waktu ia kembali ke Inggris, masyarakat di sana memberinya hadiah sebesar £ 50.000 sebagai ungkapan rasa terima kasih atas jasa-jasa yang telah dilakukannya. Ia menggunakan uang itu untuk mendirikan sekolah Nightingale dan perumahan untuk para juru rawat R.S. Santo Thomas.

Sepuluh tahun sebelum perang Krim pecah, Florence pernah menyatakan kepada kedua orang tuanya bahwa ia ingin menjadi juru rawat. Mendengar keinginan putrinya itu mereka terkejut. Pada waktu itu pekerjaan juru rawat bukanlah pekerjaan untuk wanita muda yang baik. Para juru rawat sering mabuk-mabukan, dan tidur waktu menjalankan tugas; sebagian adalah orang-orang amoral, dan tingkah laku mereka lebih mirip dengan tunasusila daripada juru rawat; sebagian lagi adalah orang-orang yang tidak jujur atau benar-benar tidak bisa bekerja dengan baik. Dengan keteladanannya, dan juga dengan sekolah juru rawat yang baru didirikannya, Florence membuat perubahan yang berhasil mengangkat nama baik juru rawat seperti yang dipunyai mereka sekarang. Dan walaupun ia menderita cacat tubuh pada sebagian besar usianya, ia tidak pernah berhenti bekerja – dan selalu menyempatkan diri untuk bertemu dan berbincang-bincang dengan para juru rawat muda dari sekolah Nightingale.

2 thoughts on “Florence Nightingale: Perintis perawatan dan pembaharuan rumah sakit

  1. It is considered to the start of the Arab Spring and would go
    a long way in forcing the politicians to effectively govern the country.
    What is interesting is that you get to read news and analysis that give
    you an entirely different perspective, rarely seen in corporate-sponsored
    media. “The boys said they’d been out collecting frogs when something approached from the saw grass.

  2. Ping-balik: faringitis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s